‘Dampak Negatif’ Bantuan Asing Tsunami Aceh

19 05 2009

Tetesan pena ini, rangkaian HTML dan semuanya kupersembahkan bwt mereka yang masih peduli. Secara garis besar emang terlihat menguntungkan, tapi ingat dulu 3G, Gold, Gospel, and Glory, Ingat kan pelajaran  ejarah SMP? harta, keyakinan dan kekuasaan, yang  merupakan tujuan mutlak bangsa Eropa menduduki Indonesia di awal penjajahan. Tapi qta g’blh ngasal ngomong gitu aja, di sini qta perlu melihat bukti-bukti, saksi-saksi juga konspirasi yang menyelubungi kesemuanya itu. Nah, tadinya qta sepakat, bahwa Gold itu harta ataupun kekayaan, yang dimaksud disini  pasti  beralih langsung  pada bidang ekonomi. Kilas balik Tsunami 26 Desember 2004, melenyapkan ratusan ribu anak-anak  NAGGROE (baca: nangro, yang berarti negri) menghapus bangunan-bangunan penduduk Aceh dari peta Daerah, Ok, kembali ke pembahasan GOLD tadi, akhir-akhir ini qta mendengar adanya gebrakan baru dari Gubernur Aceh Irwandi yang mengundang Investor asing ke Aceh, saya punya sedikit wacana untuk hal ini, , Hendro S Koto, ketua DPP Partai Rakyat Aceh (PRA), bidang Pemuda dan Mahasiswa, saya mendukung dan sangat setuju dengan opini beliau,,

HENDRO S KOTO,

“Kita memang patut mendukung gebrakan Gubernur Irwandi mengundang investor asing ke Aceh, tapi yang menjadi fokus dalam pembangunan Aceh adalah bagaimana menitikberatkan pembangunan pada sektor manusia  (SDM)”.

TIDAK bisa dibantah bahwa momentum tsunami dan MoU Helsinki telah membawa perubahan yang lebih maju terhadap harapan demokratisasi dan ekonomi di Aceh. Tingkat ekspektasi dunia internasional yang tinggi terhadap Aceh telah melahirkan komitmen dan kebersamaan dalam membantu dan membangun Aceh kembali dari konflik bersenjata dan bencana alam. Apresiasi Dunia Internasional untuk membantu Aceh tidak hanya dalam bentuk bantuan kemanusiaan,  fisik , akan tetapi juga meliputi bantuan dalam bentuk pemulihan ekonomi dan pemulihan tata pemerintahan.

Cakupan perbaikan juga tidak hanya difokuskan pada daerah tsunami, tapi sudah meluas ke daerah-daerah yang merupakan basis konflik dan basis sumber daya alam dan ekonomi di Aceh. Dominasi bantuan Amerika (USAID, IMF dan World Bank), Uni Eropa (GTZ, SIDA, DFID), Australia (AIPRD, Ausaid), Jepang (JICA, JICS) menandai babak baru proses transformasi Aceh menuju liberalisasi politik dan ekonomi.

Secara tidak sadar, perlahan tapi pasti, liberalisasi ekonomi semakin mendapat tempat di Aceh. Terwujudnya pemerintahan yang baik, akuntabilitas, transparansi dan partisipatif ádalah prasyarat utama untuk mendukung sistem liberalisasi ekonomi dan perdagangan.

Membangun Aceh dengan Investasi

Semula geliat ekonomi Aceh diharapkan tumbuh dengan subur paska ditemukannya sumber gas alam di Arun, Aceh Utara. Penemuan gas alam telah mendorong lahirnya sektor industri hilir dan industri lainnya yang diharapkan mampu menggeliatkan ekonomi masyarakat sekitar industri dan Aceh pada umunya. Namun sayangnya, harapan rakyat Aceh terhadap masa depan dan tingkat kesejahteraan dari hasil alam ini berbanding terbalik dengan kondisi hari ini dimana setelah lebih dari 30 tahun eksplorasi Exxon Mobil yang telah menggeruk jutaan dollar uang yang dihasilkan dari proses eksplorasi tersebut, tidak mampu mensejahterakan kehidupan rakyat Aceh. Bahkan ironisnya masyarakat Aceh Utara yang notebenenya sangat dekat dengan lingkungan perusahaan raksasa tersebut hanya bisa menatap miris ketika berton-ton muatan kapal yang berisi gas alam cair diangkut melalui kapal untuk dijual ke pembeli utama yang katanya sudah menandatangani kontrak karya selama 35 tahun. Sehingga Pusong–salah satu kecamatan di Aceh Utara yang dekat dengan perusahaan Exxon–adalah tetap ‘pusong’ dan tidak maju-maju sampai dengan sekarang. Ironis dan menyedihkan. Sekelumit cerita miris diatas adalah satu pelajaran bagi rakyat Aceh bahwa investasi jutaan dollar yang diperuntukkan demi eksplorasi migas ternyata tidak bisa menjadi jaminan membawa perubahan yang signifikan terhadap tingkat perekonomian dan kesejahteraan rakyat Aceh. Eksplorasi dan investasi sektor pertambangan yang dilakukan di Aceh Utara di dominasi oleh perusahaan Amerika dan Jepang, dan Aceh hanya mendapat keraknya saja.

Beranjak pada kondisi perpolitikan yang sudah stabil, dimana kecenderungan fluktuasi ekonomi yang membaik, mau tidak mau kita harus memilih untuk membangun Aceh dengan kembali meletakkan perbaikan pada bidang ekonomi makro dan mikro. langkah ini sangat penting dilakukan agar arah dan kebijakan pembangunan sektor ekonomi yang tepat sasaran bisa membawa rakyat ke arah perbaikan ekonomi yang lebih baik. Kita harus sepakat bahwa konflik selama lebih dari tiga dasawarsa telah menyebabkan lambatnya pertumbuhan ekonomi sehingga produk domestik bruto (PDB) daerah sangat rendah dan indikasi ini membuat tingkat kemiskinan dan pengangguran di Aceh menjadi persoalan pelik yang harus dihadapi pemerintahan Aceh baru.

Pilihan strategi membuka keran investasi seluas-luasnya seperti yang telah dicanangkan oleh Gubernur Irwandi dengan mengundang para investor asing tanpa di barengi kerangka regulasi yang jelas dan persiapan modal sosial (/social capital/) masyarakat, maka akan sia-sia saja investasi yang akan di tanamkan. Patut dicatat apa yang disebutkan Prof. Jorgensen (1980) bahwa ekonomi Amerika Serikat dalam kurun waktu 1948-1979 menunjukkan 46% pertumbuhan dipengaruhi oleh pembentukan modal, 31% dipengaruhi tenaga kerja, serta 24% dipengaruhi oleh teknologisasi.

Kita memang patut mendukung gebrakan Gubernur Irwandi soal investasi itu, tapi yang menjadi fokus dalam pembangunan Aceh adalah bagaimana menitikberatkan pembangunan pada sektor manusia (SDM) sebagai /asset/ utama dalam reformasi pembangunan ekonomi secara menyeluruh. SDM punya peranan vital dalam pertumbuhan ekonomi suatu bangsa/daerah dan bahkan lebih penting daripada faktor teknologi. SDM yang handal bisa menghadirkan teknologi yang canggih, tapi berharap teknologi yang canggih tanpa memiliki modal SDM yang canggih = nol. Oleh karena itu, memacu pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bermodal investasi uang yang besar tanpa melihat kualitas SDM. Unsur kualitas masyarakat dapat diukur dari tingkat pendidikan, kesehatan dan kebebasan mengeluarkan pendapat (demokratis) dalam sistem pemerintahan suatu negara/daerah. Implikasi positif dan kongkrit dari tingkat pendidikan memberi bias pada tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. Maka, semakin tinggi tingkat kualitas hidup rakyat, maka akan semakin tinggi pula pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraannya.

Membuka keran investasi

Investasi adalah sesuatu yang berkaitan dengan akumulasi satu bentuk aktiva dengan sebuah harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti juga pembelian (termasuk produksi) dari kapital/modal barang-barang yang tidak dikonsumsi, akan tetapi digunakan untuk barang produksi. Syarat mutlak suatu investasi yang menguntungkan adalah kondisi geografis dan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan kondisi perpolitikan yang aman. Aceh sudah mengarah pada kondusi ini.

Kebijakan membukan keran investasi di Aceh memang satu kebutuhan tapi bukan mendesak. Mendorong pengusaha lokal untuk mandiri dan proteksi terhadap industri daerah perlu juga dilakukan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dalam membangun Aceh kembali kita memerlukan investasi dan modal asing? Hal ini penting untuk dijawab agar landasan, cita-cita dan arah pembangunan Aceh tetap fokus dan tepat sasaran. Jika kemudian sandaran kekuatan ekonomi Aceh ada di pertanian, perkebunan, maka pengembangan sektor ini harus ditekankan pada pendidikan yang berbasis pertanian dan perkebunan serta peningkatan teknologi jangka panjang untuk mengolah hasil sektor ini. Universitas-universitas di Aceh  harus melahirkan sarjana-sarjana yang konsen dibidang pengembangan teknologi agraria. Lulusan perguruan tinggi harus bisa membuka peluang lapangan kerja, bukan mencari kerja, sehingga cerita di Aceh Utara atau daerah lainya merupakan masa kelam yang tidak perlu terulang lagi di Aceh. Semoga. (HSKo)

(dikutip dari.www.acehinstitute.org)

dari uraian di atas kita dapat bertanya,,

- Mungkin g’ (dengan keadaan SDM di Aceh sekarang) insvestor asing itu

dapat menguasai  harta karun di Aceh…?

Kedua adalah Gospel, keyakinan, Iman atopun Aqidah.

Alhamdulillah, sampai sekarang Islam tetap menjadi agama nomor Wahid di

negeri Serambi Makkah. tapi tanpa basa basi lagi mari kita melihat bukti-bukti permutaddan yang terjadi di Aceh.

-”Para misionaris ini melakukan berbagai strategi pemurtadan di Aceh dari yang lemah lembut sampai yang terang-terangan,” tegas Sekjen Hilal Merah, Muzakhir Ridho, pada acara Seminar dan Dialog Nasional ”Perubahan Sosial dan Isu Pemurtadan di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)”, Kamis (5/1), di Jakarta.Saat ini, lanjut Ridho, ada pemukiman yang selesai dibangun oleh NGO lalu diberi tanda salib. ”Ini cara (pemurtadan) yang sangat terang-terangan,” ujarnya.

-Ratusan anak-anak Aceh secara bertahap dibawa keluar Aceh untuk disiapkan menjadi pendeta.

-Mereka juga mendirikan sekolah taman kanak-kanak (TK) di banyak tempat dan mencekoki dongeng serta lagu-lagu Nasrani. Bahkan, mereka mencuci

otak anak-anak Aceh dengan mengatakan Allah tidak adil karena mematikan orang tua sedangkan rumah Allah (masjid-red) tetap berdiri.

-Di Meulaboh sudah 50 penduduk asli Aceh yang masuk Kristen. Dikhawatirkan jumlahnya semakin banyak. Ditemukan juga 5.000 jilid buku dalam bahasa Aceh bertuliskan Injil Marhaban.

-Beberapa waktu lalu ormas Islam turun ke jalan setelah mendengar adanya usulan pembangungan gereja tingkat tiga di Aceh. Alasannya, memperluas gereja, karena jamaahnya semakin banyak dan akan menjadikan gereja terbesar di Asia Tenggara.

-Iming-iming lain yang diajukan NGO asing, merekrut orang-orang Aceh sebagai staf atau pegawainya dengan gaji belasan juta rupiah. Tapi di surat perjanjian kerja tertulis ‘siap sebagai pelayan tuhan’.

-Pasca tsunami, tepatnya 2 Januari, Hilal Merah mengakses email yang isinya agar umat Nasrani segera membantu Aceh. Alasannya, terjadinya tsunami Aceh sebagai cara tuhan untuk merebut Aceh yang selama ini pintunya tertutup.

Setelah semua realita di atas, kini tinggal satu yang menjadi tujuan akhir penjajahan, “Glory”, budak yang rela menjilat telapak kaki majikannya demi sepotong roti, dan rela untuk melakukan semuanya untuk tambahan seteguk air. Kalo semua bidang Politik, Hukum, Ekonomi, Agama, Pendidikan, Sosial, Budaya, Pembangunan, Pertahanan, Keamanan, sumber daya, Linkungan, dikuasai orang? Berontak….? terlambat..

Makanya dari sekarang jaga diri sendiri, jaga keluarga sendiri, jaga teman sendiri, jaga saudara sendiri, jaga sodara seimanmu.

Sekali lagi saya tekankan, tulisan di atas hanya terbatas pada realita dampak NEGATIF yang telah terjadi di Aceh.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: